Semua
itu tetap membuatku hanya termangu, kosong. Tak ada yang aku pikirkan sejauh
ini.
Aku
hanya diam terjaga menatap ribuan tetesan air yang jatuh ke tanah.
Sedikit
banyak membuatku tersapu genangan air yang dilewati ban-ban hitam besar dengan
mesin bertenaga didalamnya. Itu pun tak ku hiraukan sudah.
Namun
tak urung juga untuk aku berpindah dari bangku kayu yang hampir membuat
bokongku terasa amat kaku ini. Untunglah ada warung kelontong ini yang dapat
aku jadikan tempat berteduh.
Satu
setengah jam sudah aku berdiam di tempat ini, tetapi aku ditemani dengan
orang-orang yang juga bertujuan untuk sekadar mencari perlindungan.
Kami
semua berdiam, layaknya sahabat sedang bermusuhan. Bagaimana tidak, jarak kami
yang berdekatan namun tak ada satu pun dari kami yang bertegur sapa. Aneh, itu
karena memang kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain.
Tapi
yang aku rasakan, mungkin mereka pun merasakan, dingin, sepi, hilang tujuan.
Ahh,
entahlah mungkin hanya aku yang merasakan itu. siapa mereka pun aku tak tau. Mungkin
tidak untuk sepasang pria dan wanita yang tepat duduk di belakangku.
Mereka
terdiam, tapi ku rasa pasti saling mengenal. Karena aku melihat mereka bersama
dalam satu kendaraan saat mereka menghentikan perjalanan lalu bergabung dalam
warung kelontong ini.
Tak
terdengar sedikit pun perbincangan di antara keduanya. sayang aku tak dapat
melihat ekspresi yang mereka miliki saat itu, apa senang atau sedih. Tak mungin
juga aku bertanya apakah mereka pasangan kekasih atau bukan, tidak penting
untuk ku ketahui.
Namun
entah mengapa aku berpikir, mungkinkah mereka seperti aku dan dia saat itu? Yang
pernah terdiam tanpa kata. Jika dugaanku itu benar, sama saja. Setiap pasangan
pasti pernah merasakan kondisi seperti itu.
Hanya
saja akar masalahnya itu yang mungkin tidak sama..
Yang
aku ketahui, diam itu emas.
Dan
ketika aku terdiam saat datang
kebisingan, akan menciptakan inspirasi yang tak terduga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar