Minggu, 04 Maret 2012

Sebuah Inspirasi

Gemuruh petir dan gemericik hujan, serta bisingan kendaraan lalu-lalang di hadapanku.
Semua itu tetap membuatku hanya termangu, kosong. Tak ada yang aku pikirkan sejauh ini.
Aku hanya diam terjaga menatap ribuan tetesan air yang jatuh ke tanah.
Sedikit banyak membuatku tersapu genangan air yang dilewati ban-ban hitam besar dengan mesin bertenaga didalamnya. Itu pun tak ku hiraukan sudah.
Namun tak urung juga untuk aku berpindah dari bangku kayu yang hampir membuat bokongku terasa amat kaku ini. Untunglah ada warung kelontong ini yang dapat aku jadikan tempat berteduh.
Satu setengah jam sudah aku berdiam di tempat ini, tetapi aku ditemani dengan orang-orang yang juga bertujuan untuk sekadar mencari perlindungan.
Kami semua berdiam, layaknya sahabat sedang bermusuhan. Bagaimana tidak, jarak kami yang berdekatan namun tak ada satu pun dari kami yang bertegur sapa. Aneh, itu karena memang kita tidak pernah saling mengenal satu sama lain.
Tapi yang aku rasakan, mungkin mereka pun merasakan, dingin, sepi, hilang tujuan.
Ahh, entahlah mungkin hanya aku yang merasakan itu. siapa mereka pun aku tak tau. Mungkin tidak untuk sepasang pria dan wanita yang tepat duduk di belakangku.
Mereka terdiam, tapi ku rasa pasti saling mengenal. Karena aku melihat mereka bersama dalam satu kendaraan saat mereka menghentikan perjalanan lalu bergabung dalam warung kelontong ini.
Tak terdengar sedikit pun perbincangan di antara keduanya. sayang aku tak dapat melihat ekspresi yang mereka miliki saat itu, apa senang atau sedih. Tak mungin juga aku bertanya apakah mereka pasangan kekasih atau bukan, tidak penting untuk ku ketahui.
Namun entah mengapa aku berpikir, mungkinkah mereka seperti aku dan dia saat itu? Yang pernah terdiam tanpa kata. Jika dugaanku itu benar, sama saja. Setiap pasangan pasti pernah merasakan kondisi seperti itu.
Hanya saja akar masalahnya itu yang mungkin tidak sama..
Yang aku ketahui, diam itu emas.
Dan ketika aku  terdiam saat datang kebisingan, akan menciptakan inspirasi yang tak terduga.

Sesaat..


 

Terdiam dalam kebisingan malam..
Tak ada kata satu pun yang kami ucapkan,
jangankan untuk berbicara, untuk aku tanyakan keadaannya pun tak dapat ku berucap.
Lidah ini terasa kaku, dan membisu.
Kami terus melaju bersama dengan berkendara. Dia yang fokus dengan jalan di sekitarnya
dan aku duduk termangu di balik badannya. Punggungnya yang saat ini aku sangat ingin
peluk erat dari arah belakang, dan kurasakan bersandar di bahunya.
Tapi apa? Aku tak sanggup melakukan semua. Jangankan untuk memeluk erat, berpegangangan untuk berjaga2 agar tak terjatuh pun aku enggan..
Aku hanya dapat melihat kendaraan lain yang lalu-lalang di sisi kanan dan kiriku.
Tak sedikit pula ku lihat bias sinar lampu yang membuat kerut mataku, dan tak kuat untuk
menahan kedip.
Putih, kuning, merah dan biru semua bersatu-padu bagai parade lampion.
Hanya garak-gerik kecil yang ia tunjukkan dari dirinya. Mulai dari gelengan kepala saat ia tak sengaja terperosok ke lubang jalan, sampai terkadang rem mendadak yang ia injak ketika ada kendaraan lain yang berhenti seenaknya.
Hanya itu yang aku rasakan, bahasa tubuhnya. Walau kami berada dalam satu perjalanan,
perjalanan mengantarku pulang sesaat sebelum kami ada percekcokan sepele.