Terdiam dalam kebisingan
malam..
Tak ada kata satu pun yang
kami ucapkan,
jangankan untuk berbicara, untuk aku tanyakan keadaannya pun tak dapat ku berucap.
Lidah ini terasa kaku, dan membisu.
Kami terus melaju bersama dengan berkendara. Dia yang fokus dengan jalan di sekitarnya
dan aku duduk termangu di balik badannya. Punggungnya yang saat ini aku sangat ingin
peluk erat dari arah belakang, dan kurasakan bersandar di bahunya.
Tapi apa? Aku tak sanggup melakukan semua. Jangankan untuk memeluk erat, berpegangangan untuk berjaga2 agar tak terjatuh pun aku enggan..
Aku hanya dapat melihat kendaraan lain yang lalu-lalang di sisi kanan dan kiriku.
Tak sedikit pula ku lihat bias sinar lampu yang membuat kerut mataku, dan tak kuat untuk
menahan kedip.
Putih, kuning, merah dan biru semua bersatu-padu bagai parade lampion.
Hanya garak-gerik kecil yang ia tunjukkan dari dirinya. Mulai dari gelengan kepala saat ia tak sengaja terperosok ke lubang jalan, sampai terkadang rem mendadak yang ia injak ketika ada kendaraan lain yang berhenti seenaknya.
Hanya itu yang aku rasakan, bahasa tubuhnya. Walau kami berada dalam satu perjalanan,
perjalanan mengantarku pulang sesaat sebelum kami ada percekcokan sepele.
jangankan untuk berbicara, untuk aku tanyakan keadaannya pun tak dapat ku berucap.
Lidah ini terasa kaku, dan membisu.
Kami terus melaju bersama dengan berkendara. Dia yang fokus dengan jalan di sekitarnya
dan aku duduk termangu di balik badannya. Punggungnya yang saat ini aku sangat ingin
peluk erat dari arah belakang, dan kurasakan bersandar di bahunya.
Tapi apa? Aku tak sanggup melakukan semua. Jangankan untuk memeluk erat, berpegangangan untuk berjaga2 agar tak terjatuh pun aku enggan..
Aku hanya dapat melihat kendaraan lain yang lalu-lalang di sisi kanan dan kiriku.
Tak sedikit pula ku lihat bias sinar lampu yang membuat kerut mataku, dan tak kuat untuk
menahan kedip.
Putih, kuning, merah dan biru semua bersatu-padu bagai parade lampion.
Hanya garak-gerik kecil yang ia tunjukkan dari dirinya. Mulai dari gelengan kepala saat ia tak sengaja terperosok ke lubang jalan, sampai terkadang rem mendadak yang ia injak ketika ada kendaraan lain yang berhenti seenaknya.
Hanya itu yang aku rasakan, bahasa tubuhnya. Walau kami berada dalam satu perjalanan,
perjalanan mengantarku pulang sesaat sebelum kami ada percekcokan sepele.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar